From, Human confused about love
Dear, penguasa, pemilik jaga raya ini
Tuhan, aku kembali disini untuk bercerita kisahku
padaMu. Aku sedikit malu menceritakannya padaMu karena ini kisah yang entah
penting atau tidak dikehidupanku. Penting karena ini menyangkut masa depan
keluarga yang akan kubina kelak, tidak penting karena aku juga masih belum
terlalu memikirkan jauh sampai kearah sana dan belum sepenuhnya memberikan apa
yang orang tua harapkan, kerja. Kisah percintaanku hampir tidak selau berjalan
mulus, entah karena orang tua tak menyetujui, aku jatuh hati pada kekasih
orang, aku tak berani mengutarakan perasaanku sampai gebetan diambil temen
sendiri. Terakhir kalinya, jujur bikin aku kapok nerima komitmen yang
ditawarkan seorang bernama laki-laki. Maunya cuek aja dengan peristiwa itu,
tapi entah kenapa keraguan itu selalu datang. Rasa tidak percaya dan takut akan
sakit hati yang terulang kembali. Tuhan, aku pernah mendengar katanya seseorang
yang baik akan mendapatkan pasangan hidup yang baik dan orang buruk akan
mendapatkan pasangan yang buruk, intinya tidak jauh-jauh dari perputaran ruang
lingkup hidup kita sendiri benarkah? Bukannya aku menyombongkan diri, tapi aku
selalu berusaha bersikap sebaik mungkin pada seseorang karena aku sadar aku
bukan orang yang cukup baik dulu, aku berusaha sebaik mungkin orang nyaman
denganku walaupun kadang mereka merasa justru kebaikanku membuat mereka merasa
tak nyaman. Kenapa aku selalu mendapakan seseorang atau katakanlah laki-laki
yang hadir dalam kehupanku belum bisa dikatakan benar-benar baik dan sesuai
dengan yang aku harapkan? Apa ini karena aku yang terlalu memiliki kriteria dan
harapan yang tinggi? Atau karena harapanku dulu ingin berpacaran dengan orang
brengsek terkabul? Haha. Entahlah? Kemarin seseorang yang bahkan belum pernah
ngobrol face to face padaku berkata
menyukaiku, dia anak yang biasa nongkrong didepan rumah kenalan Bapakku. Jujur
aku bingung harus bagaimana, di satu sisi mungkin tidak ada salahnya menjalin
hubungan dengannya karena aku juga sudah satu tahun lebih single tapi disisi lain aku ragu akan semua itu, mengingat
bagaimana sakitnya ketika terlalu percaya pada seseorang dan mereka tak
mempergunakan dengan baik kepercayaan itu, bahkan dua orang sekaligus, gebetan
dan teman. Kejadian itu membuatku ragu akan pernyataan mendadak anak depan
rumah, salahkah aku? Bagaimana aku tidak meragukannya jika orang yang sudah
lama mengenalku dan selalu kupercaya saja bisa menyakitiku seperti itu apalgi
orang yang baru aku kenal? Aku harus bagaimana agar tidak menyakitinya? Aku
takut kejadian dulu terulang, bahkan pikiran negative sudah menjalar
kemana-mana karena pernyataan tiba-tiba itu. entah hanya untuk taruhankah?
Membohongikukah? Atau bahkan sekedar penasaran? Rasa takut itu mengalahkan
segalanya. Berikan petunjuk padaku Tuhan apa yang harus kuperbuat? Menjalaninya
dengan santai, aku takut terlalu memberi harapan, mundur tapi hatiku tak
menginginkan aku mundur, berteman? Entahlah. Apalagi tadi pagi ibuku
menyebutnya dengan sebutan tidak enak. Entahlah kuserahkan semuanya padaMu. Aku
hanya mengharap Engkau memberikan yang terbaik dari yang paling terbaik
untukku. Aminn.
Terima kasih atas kesempatan yang Engkau berikan
untukku menyampaikannya.