Kamis, 09 Oktober 2014

Dear God 2

From, Human confused about love

Dear, penguasa, pemilik jaga raya ini

Tuhan, aku kembali disini untuk bercerita kisahku padaMu. Aku sedikit malu menceritakannya padaMu karena ini kisah yang entah penting atau tidak dikehidupanku. Penting karena ini menyangkut masa depan keluarga yang akan kubina kelak, tidak penting karena aku juga masih belum terlalu memikirkan jauh sampai kearah sana dan belum sepenuhnya memberikan apa yang orang tua harapkan, kerja. Kisah percintaanku hampir tidak selau berjalan mulus, entah karena orang tua tak menyetujui, aku jatuh hati pada kekasih orang, aku tak berani mengutarakan perasaanku sampai gebetan diambil temen sendiri. Terakhir kalinya, jujur bikin aku kapok nerima komitmen yang ditawarkan seorang bernama laki-laki. Maunya cuek aja dengan peristiwa itu, tapi entah kenapa keraguan itu selalu datang. Rasa tidak percaya dan takut akan sakit hati yang terulang kembali. Tuhan, aku pernah mendengar katanya seseorang yang baik akan mendapatkan pasangan hidup yang baik dan orang buruk akan mendapatkan pasangan yang buruk, intinya tidak jauh-jauh dari perputaran ruang lingkup hidup kita sendiri benarkah? Bukannya aku menyombongkan diri, tapi aku selalu berusaha bersikap sebaik mungkin pada seseorang karena aku sadar aku bukan orang yang cukup baik dulu, aku berusaha sebaik mungkin orang nyaman denganku walaupun kadang mereka merasa justru kebaikanku membuat mereka merasa tak nyaman. Kenapa aku selalu mendapakan seseorang atau katakanlah laki-laki yang hadir dalam kehupanku belum bisa dikatakan benar-benar baik dan sesuai dengan yang aku harapkan? Apa ini karena aku yang terlalu memiliki kriteria dan harapan yang tinggi? Atau karena harapanku dulu ingin berpacaran dengan orang brengsek terkabul? Haha. Entahlah? Kemarin seseorang yang bahkan belum pernah ngobrol face to face padaku berkata menyukaiku, dia anak yang biasa nongkrong didepan rumah kenalan Bapakku. Jujur aku bingung harus bagaimana, di satu sisi mungkin tidak ada salahnya menjalin hubungan dengannya karena aku juga sudah satu tahun lebih single tapi disisi lain aku ragu akan semua itu, mengingat bagaimana sakitnya ketika terlalu percaya pada seseorang dan mereka tak mempergunakan dengan baik kepercayaan itu, bahkan dua orang sekaligus, gebetan dan teman. Kejadian itu membuatku ragu akan pernyataan mendadak anak depan rumah, salahkah aku? Bagaimana aku tidak meragukannya jika orang yang sudah lama mengenalku dan selalu kupercaya saja bisa menyakitiku seperti itu apalgi orang yang baru aku kenal? Aku harus bagaimana agar tidak menyakitinya? Aku takut kejadian dulu terulang, bahkan pikiran negative sudah menjalar kemana-mana karena pernyataan tiba-tiba itu. entah hanya untuk taruhankah? Membohongikukah? Atau bahkan sekedar penasaran? Rasa takut itu mengalahkan segalanya. Berikan petunjuk padaku Tuhan apa yang harus kuperbuat? Menjalaninya dengan santai, aku takut terlalu memberi harapan, mundur tapi hatiku tak menginginkan aku mundur, berteman? Entahlah. Apalagi tadi pagi ibuku menyebutnya dengan sebutan tidak enak. Entahlah kuserahkan semuanya padaMu. Aku hanya mengharap Engkau memberikan yang terbaik dari yang paling terbaik untukku. Aminn.

Terima kasih atas kesempatan yang Engkau berikan untukku menyampaikannya.


Dear God 1

From, Human question

Dear, penguasa, pemilik jagad raya ini

Tuhan, aku umatMu yang penuh dosa dan keluhan, bahkan aku pernah menangisi rasa takut Engkau akan menghukumku atas semua perbuatan burukku. Aku masih ingat malam itu. Hari ini, bolehkah aku kembali mencurahkan kembali isi hatiku padaMu? Semoga Engkau tidak keberatan dengan betapa egoisnya sikapku ini. Yah, aku menyadari akan keegoisan, tempramental, bawel, cengeng dan segala keburukan sikapku lainnya. Terima kasih Engkau membagikan berbagai macam rasa dihidupku ini. Entah itu kebaikan dan keburukan. Tapi, keburukan itu tetap tak sepadan dengan berjuta-juta kebahagian dan kebaikan yang Kau berikan. Engkau memberiku kehidupan, raga dan batin yang sehat dan lengkap, keluarga dan teman yang mungkin menyayangiku. Tuhan bolehkah aku menanyakan hal yang sama pertanyaan yang tak pernah terjawab? Mungkin Engkau menganggap pertanyaanku ini dosa karena aku meragukan atau entahlah, mungkin ini dosa yang harus kutanggung karena mempertanyakan hal yang seharusnya tidak boleh kupertanyakan. Aku tau, sesuai dengan ajaran yang diajarkan. Jika nantinya aku harus mempertanggung jawabkan apa yang telah kuperbuat di dunia ini, benarkan? Lalu apa tujuan Engkau menciptakan kami, jagad raya ini? Bukankah semua nantinya akan kembali padaMu? Dan pada akhirnya kami juga harus dihukum karena melanggar aturan yang Engkau terapkan. Kenapa Engkau memberikan seseorang dengan ujian yang sangat berat, tapi disisi lain Engkau memberikan sekedar ujian pada mereka yang sama-sama taat padaMu? Apa karena perbuatan nenek moyang mereka, atau karena kemampuan mereka yang berbeda menghadapi ujianMu? Aku tau jika harus ada keseimbangan didunia ini agar damai dan aku juga mengerti jika tidak ingin mendapat siksa di akhirat kelak maka berbuatlah kebaikan. Tapi kenapa Engkau memberikannya pada orang itu? Apa yang menjadi alasan Engkau memberikan kebaikan pada orang itu dan memberikan kejahatan pada orang yang lain? Apakah karena mereka yang menerima kebaikan adalah orang-orang pilihan? Sedang seseorang yang dilahirkan didunia ini tak bisa memilih dilahirkan dilingkungan yang seperti apa, benarkan? Bagaimana cara mereka agar mereka dilahirkan dalam keluarga bahagia? Atau, apakah ada sesuatu khusus dalam diri manusia yang membentuk mereka nantinya? Astagfiruallah, maafkan aku yang bertanya terlalu jauh dan memikirkan hal konyol yang seharusnya tidak kupertanyakan. Tapi, aku percaya satu hal, Engkau ada disetiap langkah kami, dimanapun kami berada, disituasi dan kondisi apapun, karena Engkau Maha segalanya tak akan memberikan ujian diluar kemampuan kami umatMu.


Terima kasih atas kesempatan yang Engkau berikan untukku menyampaikannya.

Kamis, 02 Oktober 2014

Falling in Love with a man who shouldn't be loved

Jatuh Cinta Pada Pria yang Tidak Boleh Gue Cintai.

Kalimat yang barusan gue baca di novel karya Virginia membuat gue berfikir. Seumur hidup, gue bener-bener jatuh cinta sama seorang cowok cuma tiga atau empat kali. Kenapa atau? karena satunya gue langsung ilfil ketika tau dia tukang rayu. Dan yang berhasil gue pacarin cuma satu sisanya kelaut. Haha.

Pertama, cinta monyet gue jaman SMA yang bertahan putus nyambung sampai tahun ketiga dan akhirnya putus karena gue gak siap LDR dan jujur gue mulai bosen dengan rutinitas pacaran backstreet, gimana mau gak lewat jalan belakang kalau sebenarnya nyokap gue gak setuju dan udah memperingatkan gue saat baru aja denger desas desus gue pacaran sama tuh cowok. Gue ngerasa dia terlalu nurut, rendah diri dan baik buat gue yang selalu ingin hal-hal baru entah itu berantem ataupun sekedar ajak gue jalan dan nerima gue apa adanya yang suka teriak-teriak dan perubahan mood gak jelas. Hmm,, mungkin juga gara-gara gue terlalu takut dan malu alias kurang PD sebenarnya. Ya.. namanya juga pacar pertama. Entahlah gue lupa yang jelas dulu gue cinta sama dia dan dia bisa bikin gue tersipu malu sampek tak mampu memandang matanya. Aish, gombal banget. Tapi gue yang sekarang bedalah sama gue yang dulu. Dulu gue bego masalah cinta dan sekarang masih sama. Hahaha. Beda dari segi pemikiran maksudnya, tapi kalo urusuan begituan..... Yup gue rasa kalo masalah yang namanya Cinta gue nyerah deh. Karena gue mikirnya lebih lama ketika ditanya pengertian cinta dari pada pengertian akuntansi. Gue lebih lama menggambarkan gimana alurnya pacaran dari pada menggambarkan alur akuntansi. Beneran deh gue ngerti tapi gue gak bisa menggambarkannya.

Secondly, i’m falling in love with someone in my universty. Awalnya gue gak tau kalo dia anak satu kampus karena gue gak sengaja ketemu dia di minimarket deket kosan gue. Waktu itu gue gak sengaja tabrakan sama dia dan dia cuma nyelonong tanpa permisi ke kasir. Hal itu bikin gue marah namun di tenangin sama temen-temen gue. Bukannya GR tapi gue ngerasa dia mandangin gue mulu dan gue balas mandang dia, dan anehnya diantara kita gak ada yang lepasin pandangan satu sama lain sampai dia keluar minimarket bikin gue ngedumel jengkel disambut tawa sama temen-temen gue “Lumayan kan, dia anak Manajemen satu kelas sama gue namanya R....... dia dari..... blablabla” temen gue nyerocos tentang tuh cowok dan bikin gue penasaran sampek akhirnya gue pernah samperin dia ke kelasnya dengan alasan ketemu temen gue. Jantung gue bukk,,, rasanya copot ketika temen gue tiba-tiba bilang “Udah Move On nih”... iya hampir satu semester gue masih keinget kenangan cinta monyet yang berakhir di tahun ketiga itu. Oke lanjut, gue ketemu tuh cowok di kelasnya dan dia mandang gue dengan tatapan tajam yang sama waktu ketemu di minimarket. Dan sialnya tatapan itu bikin gue tambah kepo sama dia, sebenarnya kenapa dia natap gue kaya gitu? Dan kenapa dia tiba-tiba balik arah pura-pura gak liat gue waktu ketemu di lorong kampus? Apa ada yang salah sama gue? Gara-gara kepo gue stalking dia, sumpah bukan gue banget jadi stalker gara-gara cowok. Singkat cerita gue jadi lebih mengenal dia apalagi gue sempet chat sama dia dan temennya di facebook. Gue seneng ketika kita ngobrol, saling like status dan ketika tau kita sama-sama suka anime. Hampir tiap hari gue stalking akun facebooknya hanya untuk tahu dia ngapain dan dimana sampai akhirnya tiba-tiba dia ngilang beberapa minggu, gak di kampus gak di SosMed dan akhirnya gue dikasih tau temen gue kalo dia balik ke kampung halaman. Biar lebih jelas gue tanya langsung ke temenya dan dia langsung ternyata bener. Gue ngerasa ada yang aneh dan tiba-tiba TARAAA..... dia pajang DP (display picture) sama cewek yang waktu itu katanya mantanya dan sekarang dia bilang kalo dia balik ke kampung halaman dan balikan sama mantannya. Well,, make me shock and gue menghibur diri kalo penampilan gue lebih baik dari mantanya yang rock n roll. Sialnya gue butuh waktu lama buat move on dari Mr. R dan masih sering stalking SosMednya dan bikin gue tambah patah hati dan nangis bombay ketika mereka sayang-sayangan. Sampai temen gue usul buat cari some other guy yang bisa dipacarin, tapi tetep aja susah kalo cuma sekedar suka. Ujung-ujungnya gue putus dalam hitungan bulan.

Ketiga, gue pikir gue udah nemuin pengganti Mr. R nantinya karena nih cowok walaupun lebih muda dari gue dia perhatian dan selalu nemenin gue kalo gue sendirian di sekretariat UKM kita yang sebelahan. Tapi usut punya usut kata temen gue dia bersikap gitu ke semua cewek dan tukang gombal. Padahal dia udah punya cewek yang udah dipacarinya sejak SMA. Wow,, Langgeng aja deh buat lu..

Keempat, Beberapa bulan lalu gue hijrah cari ilmu ke Kampung Inggris di Pare. Bener-bener tempat yang asyik buat cari some other guy pikir gue. Akhirnya ada seseorang yang berhasil mengalihkan pandangan gue dari Mr.R awalnya karena wajahnya rada mirip (lebih ganteng Mr. R kata temen gue) dan mereka memiliki tatapan yang sama tapi sikap perilakunya 180° derajat berbeda. Awalnya gue gak suka dengan gaya cueknya dan gue membanding-bandingakannya dengan Mr.R dan entah kenapa lama kelamaan cerita tentang dia, tatapan tajam itu bikin gue deg-degan dan grogi setengah mati. Bahkan gue sempet bolos kalo tau gue bakal private berdua sama dia. Bisa mati duduk gue dengan tatapannya apalagi gue paling gak bisa jaga perasaan, gue bakalan terus memandangnya kalo mata gue gak dijaga. Sampai akhir ternyata gue harus gigit jari waktu tau kalo dia LDR sama pacarnya. Ngenes banget pikir gue, tapi pantang buat gue ngerusak hubungan seseorang karena gue tau gimana rasanya. Hehe (baca Bad Romance)

Sekarang gue masih tetep menyandang status single gue, karena gue ngerasa dari pengalaman gue susah buat jalin hubungan sama orang yang sekedar gue suka. Dan entah kenapa gue ngerasa susah banget bikin hati ini kebuka buat kesekian kalinya. Gue selalu percaya Tuhan mempersiapkan Jodoh yang terbaik dari yang paling terbaik buat gue. Amiinn. Gue tinggal nunggu waktunya aja ketika Tuhan menghadirkannya untukku. Wish me luck