Dulu, beberapa tahun silam aku pernah membuat beberapa bait
kata yang menjadi pedoman. Yang membuat mereka berkomentar, aku terlalu sok
bijak, aku berfikir seperti orang tua, dll. Tapi, dengan kata-kata itulah aku
bisa mengenal diriku (saat itu).
Kawan
Dihari
yang akan datang
Kita
kan berbaur dengan masyarakat
Kau
bilang benci padaku
Ku pahami itu
Karena memang inilah diriku
Hamba Tuhan yang penuh kekurangan
Kawan,,,
Coba kau fikir dan renungkan
Jika setiap makhluk tak punya
kekurangan
Penuh dengan kesempurnaan
Apa jadinya kehidupan
Kawan,,,
Inilah aku
Kau tau sulit tuk rubah sikap
Begitu pula aku, inilah aku
Takdirku memang diciptakan Tuhan
seperti ini
Jika bisa kurubah kan kulakukan
Hanya tuk tampil tampil semprna
dimata orang
Kawan,,,
Apa gunanya itu? Bagiku tak ada
gunanya
Hanya demi dipandang baik dimata
orang
Apapun rela dikorbankan
Apa gunanya itu?
Jika itu hanya merugikan diri
kita
Jika itu hanya membohngi diri
kita
Jika itu menutup jati diri
Lebih baik jujur pada diri
sendiri
Ikuti kemauan hati
Kawan,,,
Mencari pasangan hidup sama
dengan mencari sahabat sejati
Jika orang itu sayang pada kita
Pasti dia akan terima kita apa
adanya
Lihat kebaikannya
Intip kekurangannya
Pahami dirinya
Itu adalah bait yang kutulis di bukuku beberapa tahun silam,
but sekarang apa yang kulakukan. Pedoman yang dulu selalu membuatku bertahan
menjadi diri sendiri, justru berbalik
menyerang tepat di ulu hati. Aku berubah menjadi orang lain. Yang sampai saat
ini aku bahkan tak mengenalnya.
Betapa bodohnya aku, aku melakukan kesalahan fatal beberapa
minggu lalu. Hanya demi dipandang baik oleh orang lain.
Andai aku masih memegang pedoman itu sampai kini, mungkin
kebodohan itu tak kan pernah terjadi.
Maafkan aku…. L