07 Januari 2015
Akhirnya perjuangan
saya untuk mempertahannya berakhir sejak pertama kali saya berkomunikasi
dengannya 03 Oktober 2014. Tiga bulan, hanya butuh tiga bulan waktu untuknya
membuatku tergila-gila padanya, mencintainya, mengkhawatirkannya,
menyanyanginya melebihi diriku sendiri bahkan. Terlalu murahankah? Terlalu
bodohkan? Bahkan sampai saat ini aku tak menemukan alasan mengapa selama ini
aku berusaha mati-matian mempertahankannya. Menahan perihnya luka yang dia
buat, bertahan dan mengalah agar semua kembali baik-baik saja. Tapi, seolah
semua itu tak ada arti dimatanya.
Bayangku
mengulang ketika pertama kali aku melihatnya, entah mengapa wajahnya membuat
aku tersipu, tampan tidak, agamis tidak. Tapi bagiku dirinya lebih dari cukup.
Seperti itukah caranya merayu seorang wanita. Tarik ulur, yang awalnya membuat
aku bingung dan penasaran padanya. Aku mencoba membangun tembokku tinggi-tinggi
waktu itu karena aku tak mau mengulang luka yang sama untuk kedua kalinya. Namun,
pada akhirnya tembok itu runtuh juga dengan segala perhatian dan cumbuannya.
Aku mulai
benar-benar mencintai dan membutuhkannya. Aku melupakan bagaimana masa lalunya;
aku melupakan segala keburukan dan kekurangannya. Dia mulai bagai narkoba dalam
kehidupan yang kubutuhkan di setiap detiknya, aku gusar ketika tak mendapat
kabarnya; aku menangis terisak ketika dia marah bahkan aku meminta maaf atas
kesalahan yang tak kuperbuat hanya untuk membuatnya tetap ada disisiku; aku
diam ketika dia bersama teman-teman wanitanya; aku tersenyum ketika tahu dia
membohongiku; aku mencoba bersabar ketika dia masih terus-terusan "minum" didepanku; aku mengkhawatirkanya ketika dia sakit, sedih dan marah; aku bahkan
menyakiti, menyalahkan diriku sendiri ketika aku menyesal membuat dia marah
padaku; aku menyangkal semua berita, cerita buruk tentangnya; aku selalu ingin
memasakkan sesuatu ketika dia lapar, membuatkannya kopi ketika dia mengantuk
dan pusing karena terlalu banyak "minum"; aku ingin bisa memijat badannya ketika
dia lelah; aku tersenyum, memeluk dan menciumnya seburuk apapun perasaan yang
kumiliki; aku menahan amarah, harga diri ketika memohon padanya untuk tetap
bersama dan mengatakan aku mencintainya meski yang kudapat hanya balasan tawa;
aku selalu percaya dia akan berubah menjadi orang yang lebih baik lagi.
Aku rela
melakukan apapun untuknya, tapi semua itu sepertinya tak pernah ternilai
dimatanya. Mungkin aku dimatanya hanya seorang gadis yang bawel dan merepotkan.
Aku rela melakukan apapun untuknya tapi tidak untuk satu hal yang ingin kujaga
sampai aku menikah nanti. Aku akan tetap mempertahankannya sampai waktunya
tiba, selain karena takut adzab Tuhan ini kujaga untuk diriku sendiri yang
masih ingin terlihat memiliki nilai, harga diri dan bukan perempuan murahan. Tapi
dia tak mau mengerti keputusanku ini, apakah aku terlalu sok suci, apakah aku
mengambil keputusan yang salah? Aku sudah mencoba menyakinkannya tapi yang
kudapat hanya hinaan. Mungkin dia benar aku hanya omong doang, aku orang
munafik, apapun yang dia katakan tentangku aku bisa menerimannya karena memang
diawal aku salah memberinya harapan hanya untuk menahannya untuk tidak pergi.
Dan aku memohon kepada Allah SWT kalaupun tidak sekarang suatu saat di
kehidupannya nanti dia akan menyesalinya, mengerti dan merasakan rasa sakit yang
kupendam selama bersamanya dua kali lebih hebat. Seharusnya dia berusaha menjadi
seseorang yang bisa dibanggakan ibunya agar ibunya tenang dialam sana. Tapi, ya sudahlah berbicara saja memang
gampang, aku sendiri juga bukan anak yang bisa dibanggakan, paling tidak aku
menyadari dan tidak memperburuk keadaan *congkak*
Aku selalu berdoa
pada Tuhan agar menjauhkan aku dari orang-orang yang ingin menyakitiku, jika
dia jodohku aku memohon agar Tuhan memberikan hidayahNya agar dia berubah
menjadi orang yang lebih baik dan sosok imam yang tepat untukku di masa
depanku. Tapi, jika bukan jodohku aku memohon hilangkan rasa ini sebelum dia
pergi meninggalkan aku, karena aku tak yakin bisa menahannya ketika dia
benar-benar pergi dan terima kasih aku bersyukur pada Allah SWT rasanya tidak
semenyesakkan yang kukira, biarlah seperti ini, jangan biarkan aku terluka
lebih dalam. Aku juga berhak mendapatkan kebahagiaan dariMu kan? Aku memang
menangisinya, mengingat setiap kenangan bersamanya tapi lebih dari itu jangan
biarkan aku terlalu larut dalam kesedihan ini Ya Allah..
Sebenarnya dia
orang yang baik aku tau itu, hanya saja dia perlu belajar mengontrol emosi dan
hawa nafsunya. Aku menyanyanginya lebih dari diriku sendiri, tapi jika dia
ingin pergi aku akan berusaha tersenyum dan mengubah rasa ini sebagai teman.
Aku menyanyangi bahkan mencintainya, tapi apa yang bisa kulakukan jika aku
bukan orang yang diharapkannya. Aku ingin berteriak, mengancam dan memaksanya
tetap bersamaku, tapi aku tau itu hanya sia-sia yang kudapat hanya ilusi dan
kebohongan yang lebih lagi. Aku masih ingin memandanginya, memeluk, mencium,
mengusap pipi dan rambutnya tapi Tuhan hanya memberiku waktu sesingkat ini
untuk melewatinya. Apa yang bisa kulakukan saat ini? Selain mencoba
mengikhlaskan dia pergi bersama yang lain dan aku harus fokus mengejar karir
dan mimpi yang sempat terlupakan sejenak karena kehadirannya. Kuatkan aku Ya
Allah ketika nantinya aku tau dia sudah jalan bersama yang lain, jika Engkau
tidak rela memberikan kekuatanmu, pinjamkan aku kekuatan mati rasa, tegar
melihatnya bersama yang lain, pinjami aku kekuatan mati rasa tentangnya sampai
aku menemukan sosok penggantinya dan hati ini tergerak kembali karena
seseorang....
Terima kasih