Jumat, 30 Januari 2015

SENYUM

Senyum,,, senyum itu mudah kok hanya menata hatinya saja yang susah. Sudah tiga minggu lepas darinya tapi rasanya masih seperti kemaren. Masih merindukannya? jawabnya iya masih. Tapi, ya sudahlah semua butuh proses. Aku memang harus melewati fase ini dan berharap semua akan sembuh seiring dengan berjalannya waktu. Satu hal yang harus selalu aku ingat “Bahagianya mungkin bukan aku”. Dia merindukan sosok lain yang tak pernah ada pada diriku. Seperti hatiku yang memilih untuk menyanyanginya atau tak bisa memaksakan hati untuk berhenti menyanyanginya. Seperti itu pula mungkin yang dia rasakan pada sosok lain itu. Wow, aku merindukan dia yang sedang merindukan orang lain. Luar biasa rumit kan hidup ini.


Tak bisa memaksakan atau merubah keadaan. Sekarang sudah berjalan masing-masing. Aku harus sadar diri. Aku bukan apa-apa untuknya, seharusnya aku bisa melakukan hal yang sama. Menyesali semua yang sudah terjadipun percuma. Aku sudah terlanjur masuk dalam perangkap menjadi tawananannya dan sekarang ketika dia melepaskan aku yang bisa kulakukan hanya mencari jalan pulang dengan sisa tenaga yang kupunya, walaupun sesekali aku masih menoleh kebelakang dan bahkan berputar kembali kedalam perangkap itu. Aku hanya sedang menyusuri jalan mencari arah pulang. Aku tak punya kompas, petunjuk arah apapun, yang kupunya hanya bisikan pelan dari Malaikat Tuhan yang dikirim untukku. Membantuku agar segera sampai di pintu kebahagiaan.

GRIEF

Tuhan,,,
Air mata itu kembali mengalir, sakit dan perih karena dia sudah memiliki yang baru IYA. Tapi ada yang lebih menjadi beban dalam pikiranku saat ini. Aku mengkhawatirkan diriku sendiri. Sampai detik ini aku berfikir. Kapan terakhir kalinya aku tertawa lepas? Kapan terakhir kalinya aku memikirkan waktu untuk diriku sendiri?  Aku bahkan sudah lupa karena hidupku terlalui penuh tentangnya.

Aku ingin merubah itu, tapi ketakutan itu hadir. Ketakutan bahwa aku tak bisa jatuh cinta lagi, mengalihkan rasa ini pada orang lain. aku takut tak bisa bahagia di akhir cerita, aku takut dia lebih bahagia dari aku, aku takut waktu tidak bisa menyembuhkan luka dan mengubah ingatan tentangnya menjadi kenangan, aku takut jika hanya keterpurukan yang hadir padaku.

Aku mencoba menepis segala ketakutan itu sendirian karena aku tak tau harus mendiskusikannya dengan siapa. Aku bosan ketika aku mencoba bercerita yang kudapat hanya perintah untuk melupakannya bahkan terkadang kemarahan dan olokkan kebodohanku. Aku tak butuh itu semua. Andai aku bisa aku juga ingin menghilangkan semua ingatan dan rasa ini. Tak perlu diberitahupun aku tahu ini salah, memiliki rasa padanya itu salah karena dia orang brengsek. Aku sangat tahu itu tanpa kalian mengatakan aku bodoh dan rendah. Aku sendiri juga marah pada hatiku. Hati dan otak tak bergerak seirama. Aku tahu ini semua salah dari awal karena aku lebih mengikuti hatiku.

Dan kini aku jujur, sebenarnya aku dipenuhi rasa bingungdan ketakutan ini. Aku bingung harus bagaimana lagi, mencari kesibukan iya. Aku sadar aku sudah harus bekerja tapi lagi-lagi keberuntungan belum sepenuhnya memihakku. Aku takut sangat takut. Tapi aku mencoba meyakinkan diri. Tuhan Maha Adil. Dia punya rencana indah untukku, itu adalah satu-satunya harapan yang kupunya saat ini. Bantuan dari Tuhan karena jujur aku tak tahu harus berbuat apa lagi.

Aku ingin kembali merasakan kebahagiaan itu. Ya Allah, Tuhanku.. terlepas dari semua sakit yang dirasakan oleh hati. Segera bekerja. Mandiri dan membahagiakan orang tua. Tunjukkan jalanMu Ya Allah menuju rizki, dan kebahagian itu. Aku akan selalu berusaha menjadi hambaMu yang patuh dan menjaga nilai-nilai yang Engkau ajarkan. Semoga Engkau selalu melindungi dan memberiku kekuatan. Terima kasih atas semua nikmat yang telah Engkau berikan.

HE LIKES A DRUGS

Tuhan itu maha Adil, Tuhan itu tak pernah tidur, Tuhan tau yang terbaik untuk umatnya, Tuhan punya rencana yang luar biasa. Apapun itu aku mencoba menaruh harapan dan mempercayai kekuatan Tuhanku, Allah SWT. Apapun perih dan sakit yang kurasakan saat ini, aku adalah umat Tuhan yang beruntung. Aku harus belajar bersyukur, menerima apapun yang disiapkan Tuhan untukku.

Teringat sepenggal kata yang pernah kubaca “Tidak ada yang sia-sia, apapun yang diberikan Tuhan pada kita.”.. seperti Tuhan yang menghadirkan sosoknya dikehidupanku. Mungkin sekarang aku sedang dalam masa uji coba memerangi kebodohan dan kelemahan yang terlalu melekat dalam diri. Ya, aku selalu merasa bodoh dalam urusan satu ini. Selalu Jatuh Cinta pada orang yang salah dan berakhir menyakitkan. Tapi mungkin ini luka yang paling menyiksa karena sampai saat ini kebodohanku akan dirinya belum juga lenyap. Dia bagaikan narkoba dalam kehidupanku, berefek negatif, tidak baik, selalu menginginkannya dan tidak bisa lepas darinya. Dia sebuah narkoba yang kebanyakan orang mengartikannya negatif tak ada kebaikan, manfaat untuk kedepan yang bisa kuperoleh darinya. Hanya merugikan. Begitulah adanya, yang kuperoleh hanya ketenangan sesaat saat dia ada, berat badanku turun dan susah fokus. Ya begitulah, perumpamaan yang konyol memang.

Sekarang aku dalam masa rehabilitasi karena kepergiannya, tapi belum kutemukan penyembuh yang ampuh selain waktu. Ya, aku sudah mencoba berbagai cara tapi rasanya pergi menjauhpun percuma karena ingatan tentangnya masih ada. Kini aku hanya bergantung pada kekuatan yang diberikan Tuhan padaku. Hati ini milikNya, semua akan kembali padaNya suatu saat nanti, kini aku berserah padaNya karena berkali-kali aku mencoba menyangkal, menahan dengan tetap tertawa, tersenyum dan melupakan semua seolah tidak terjadi apa-apa, mencoba menghapus semua ingatan tentangnya. Rasa sesak, perih dan sakit dalam dada tetap terasa bahkan terkadang semakin menahannya tekanan yang menghimpit semakin kuat dan membuatku sulit bernafas. Entah sampai kapan air mata ini terus mengalir untuknya? Kadang aku memperoleh ketenangan itu dan tersenyum lepas tapi kadang sebaliknya hanya sesak yang kudapat. Sehatkah ini?


Kadang aku berfikir, apa yang kudapat ketika terus terjebak dalam situasi dan kondisi seperti ini? Aku ingin segera enyah dan berlari pergi. Toh dia juga sudah bersama yang lain, aku menyakinkan diri bahwa dia bukan orang yang disiapkan Tuhan untukku, dia yang ingin pergi, dia tak pernah mencintaiku, aku tak berarti apa-apa untuknya, dia penghalang, penghambat, dia setan dalam hidupku. Tapi kenapa itu semua tak cukup membantu sampai My Supermom lelah dan mengabaikanku jika aku terus memikirkannya. Sekarang yang bisa kulakukan bantuan dariMu Ya Tuhan.. agar aku kembali “waras

EDISIKOPLAK

Hai,,, beberapa bulan ini blog isinya curahan hati galauu mulu dan sampai sekarangpun sepertinya masih bertema galau. Hm,, tentang dia yang baru kukenal dan ternyata hanya singgah selama kurun waktu tiga bulan saja, *tidak selama yang kukira*.

Sebenarnya cinta sejati itu ada gak sih? Untuk aku tentunya. Apa Tuhan lupa dan ngelewatin satu orang buat aku *hush*. Capek sakit hati melulu. Ini hati juga gitu, ngapain sih kamu jatuh cinta sama orang yang salah pula. Pingin rasanya matiin rasa ini buat dia, tapi belom tau gimana carannya. Kalo boleh milih, mending jatuh cinta sekali aja itu pun sama jodoh yang udah disiapkan buat aku. Betapa beruntungnya tuh orang-orang yang udah barengan jodohnya ketemu dari kecil. Sakitnya, senengnya, marahnya, sedihnya udah jelas sama orang yang pasti. Nah aku ngenesnya sama orang gak jelas melulu. Kali ini yang paling parah, sumpah bisa dibilang aku cinta buta, cinta mati sama dia. Tapi ujung-ujungnya aku ditinggalin juga karena masalah prinsip Tuhan yang gak bisa aku langgar. Sakit iya, perih iya, ngempet iya, tapi tetep gak ada artinya apa-apa buat dia. Kadang aku mikir kurang apa coba aku, setia, sayang, cinta, perhatian semua aku kasih bahkan kadang aku terlihat ngemis perhatian sama dia, bodoh gak sih. Iya emang, banyak yang bilang gitu. Tapi aku bisa apa udah terlanjur buta. *Ngahaha*. Mesti di stop sekarang!! Karena dia udah ada yang baru *fuckingperson*

Dear hati, besok jangan jatuh cinta sama orang yang salah lagi ya.. cukup sakitnya udahan sampek sini aja. Sembuhnya lama, efeknya kemana-mana, bikin gila. Jatah jatuh cintanya satu kali aja mestinya. Sama seseorang yang udah disiapin Tuhan. Jodohku disana, cepet dateng ya,,, bantu sembuhin ini luka, perih sama nyeseknya udah kagak nahan nih, cepet dateng biar kita ngabisin waktu bareng-barengnya juga lebih lama. *edisikoplak*


THE END

Kini ceritanya sudah berada pada halaman akhir, The end. Over. Selesei semua tentangnya… ya benar dia memang meninggalkan luka yang sangat dalam, tak ada yang perlu disalahkan hanyalah aku mungkin karena mengijinkannya singgah dalam kehidupanku dan menjadikan rasa ini memupuk terlalu dalam hingga menghancurkan tembok yang dulu kubangun kokoh. Bahkan aku kalah olehnya yang membawa cinta dan sayang tak seberapa besarnya.

Kebersamaan itu bahkan mungkin tak berarti dimatanya,

Dia, sudah dua minggu 15 hari tepatnya dia meninggalkanku, meninggalkan ingata yang sedang ku coba kurubah menjadi sebuah kenangan. Atas bantuan Tuhan aku bisa sampai sejauh ini bertahan dan mencoba kembali fokus menata masa depan yang sempat tertunda. “Aku tidak boleh menyia-nyiakan kekuatan yang telah dipinjamkan Tuhan padaku” itu kata-kata yang selalu kutanamkan dalam otakku, satu lagi “Dia tidak sebaik yang kamu pikirkan memeta”. Semua itu mulai kucoba kutanam di otakku. Ya otakku karena hatiku kini sudah mati, hatiku terlalu kejam, terlalu lemah dan bodoh dalam menilai. Saat ini hatiku harus dimatikan, aku tidak boleh bekerja dengan hatisemua harus bekerja, berjalan dengan otak dan fisikku. Jangan dengarkan kata hati meskipun hati menjerit kesakitan, merintih, memohon perhatian untuk dikasihani. Jangan menoleh padanya, karena sekali aku menoleh padanya pertahanan, air mata akan luluh olehnya.

BEDSHAPED

07 Januari 2015

Akhirnya perjuangan saya untuk mempertahannya berakhir sejak pertama kali saya berkomunikasi dengannya 03 Oktober 2014. Tiga bulan, hanya butuh tiga bulan waktu untuknya membuatku tergila-gila padanya, mencintainya, mengkhawatirkannya, menyanyanginya melebihi diriku sendiri bahkan. Terlalu murahankah? Terlalu bodohkan? Bahkan sampai saat ini aku tak menemukan alasan mengapa selama ini aku berusaha mati-matian mempertahankannya. Menahan perihnya luka yang dia buat, bertahan dan mengalah agar semua kembali baik-baik saja. Tapi, seolah semua itu tak ada arti dimatanya.

Bayangku mengulang ketika pertama kali aku melihatnya, entah mengapa wajahnya membuat aku tersipu, tampan tidak, agamis tidak. Tapi bagiku dirinya lebih dari cukup. Seperti itukah caranya merayu seorang wanita. Tarik ulur, yang awalnya membuat aku bingung dan penasaran padanya. Aku mencoba membangun tembokku tinggi-tinggi waktu itu karena aku tak mau mengulang luka yang sama untuk kedua kalinya. Namun, pada akhirnya tembok itu runtuh juga dengan segala perhatian dan cumbuannya.

Aku mulai benar-benar mencintai dan membutuhkannya. Aku melupakan bagaimana masa lalunya; aku melupakan segala keburukan dan kekurangannya. Dia mulai bagai narkoba dalam kehidupan yang kubutuhkan di setiap detiknya, aku gusar ketika tak mendapat kabarnya; aku menangis terisak ketika dia marah bahkan aku meminta maaf atas kesalahan yang tak kuperbuat hanya untuk membuatnya tetap ada disisiku; aku diam ketika dia bersama teman-teman wanitanya; aku tersenyum ketika tahu dia membohongiku; aku mencoba bersabar ketika dia masih terus-terusan "minum" didepanku; aku mengkhawatirkanya ketika dia sakit, sedih dan marah; aku bahkan menyakiti, menyalahkan diriku sendiri ketika aku menyesal membuat dia marah padaku; aku menyangkal semua berita, cerita buruk tentangnya; aku selalu ingin memasakkan sesuatu ketika dia lapar, membuatkannya kopi ketika dia mengantuk dan pusing karena terlalu banyak "minum"; aku ingin bisa memijat badannya ketika dia lelah; aku tersenyum, memeluk dan menciumnya seburuk apapun perasaan yang kumiliki; aku menahan amarah, harga diri ketika memohon padanya untuk tetap bersama dan mengatakan aku mencintainya meski yang kudapat hanya balasan tawa; aku selalu percaya dia akan berubah menjadi orang yang lebih baik lagi.

Aku rela melakukan apapun untuknya, tapi semua itu sepertinya tak pernah ternilai dimatanya. Mungkin aku dimatanya hanya seorang gadis yang bawel dan merepotkan. Aku rela melakukan apapun untuknya tapi tidak untuk satu hal yang ingin kujaga sampai aku menikah nanti. Aku akan tetap mempertahankannya sampai waktunya tiba, selain karena takut adzab Tuhan ini kujaga untuk diriku sendiri yang masih ingin terlihat memiliki nilai, harga diri dan bukan perempuan murahan. Tapi dia tak mau mengerti keputusanku ini, apakah aku terlalu sok suci, apakah aku mengambil keputusan yang salah? Aku sudah mencoba menyakinkannya tapi yang kudapat hanya hinaan. Mungkin dia benar aku hanya omong doang, aku orang munafik, apapun yang dia katakan tentangku aku bisa menerimannya karena memang diawal aku salah memberinya harapan hanya untuk menahannya untuk tidak pergi. Dan aku memohon kepada Allah SWT kalaupun tidak sekarang suatu saat di kehidupannya nanti dia akan menyesalinya, mengerti dan merasakan rasa sakit yang kupendam selama bersamanya dua kali lebih hebat. Seharusnya dia berusaha menjadi seseorang yang bisa dibanggakan ibunya agar ibunya tenang dialam  sana. Tapi, ya sudahlah berbicara saja memang gampang, aku sendiri juga bukan anak yang bisa dibanggakan, paling tidak aku menyadari dan tidak memperburuk keadaan *congkak*

Aku selalu berdoa pada Tuhan agar menjauhkan aku dari orang-orang yang ingin menyakitiku, jika dia jodohku aku memohon agar Tuhan memberikan hidayahNya agar dia berubah menjadi orang yang lebih baik dan sosok imam yang tepat untukku di masa depanku. Tapi, jika bukan jodohku aku memohon hilangkan rasa ini sebelum dia pergi meninggalkan aku, karena aku tak yakin bisa menahannya ketika dia benar-benar pergi dan terima kasih aku bersyukur pada Allah SWT rasanya tidak semenyesakkan yang kukira, biarlah seperti ini, jangan biarkan aku terluka lebih dalam. Aku juga berhak mendapatkan kebahagiaan dariMu kan? Aku memang menangisinya, mengingat setiap kenangan bersamanya tapi lebih dari itu jangan biarkan aku terlalu larut dalam kesedihan ini Ya Allah..

Sebenarnya dia orang yang baik aku tau itu, hanya saja dia perlu belajar mengontrol emosi dan hawa nafsunya. Aku menyanyanginya lebih dari diriku sendiri, tapi jika dia ingin pergi aku akan berusaha tersenyum dan mengubah rasa ini sebagai teman. Aku menyanyangi bahkan mencintainya, tapi apa yang bisa kulakukan jika aku bukan orang yang diharapkannya. Aku ingin berteriak, mengancam dan memaksanya tetap bersamaku, tapi aku tau itu hanya sia-sia yang kudapat hanya ilusi dan kebohongan yang lebih lagi. Aku masih ingin memandanginya, memeluk, mencium, mengusap pipi dan rambutnya tapi Tuhan hanya memberiku waktu sesingkat ini untuk melewatinya. Apa yang bisa kulakukan saat ini? Selain mencoba mengikhlaskan dia pergi bersama yang lain dan aku harus fokus mengejar karir dan mimpi yang sempat terlupakan sejenak karena kehadirannya. Kuatkan aku Ya Allah ketika nantinya aku tau dia sudah jalan bersama yang lain, jika Engkau tidak rela memberikan kekuatanmu, pinjamkan aku kekuatan mati rasa, tegar melihatnya bersama yang lain, pinjami aku kekuatan mati rasa tentangnya sampai aku menemukan sosok penggantinya dan hati ini tergerak kembali karena seseorang....

Terima kasih