Jumat, 30 Januari 2015

BEDSHAPED

07 Januari 2015

Akhirnya perjuangan saya untuk mempertahannya berakhir sejak pertama kali saya berkomunikasi dengannya 03 Oktober 2014. Tiga bulan, hanya butuh tiga bulan waktu untuknya membuatku tergila-gila padanya, mencintainya, mengkhawatirkannya, menyanyanginya melebihi diriku sendiri bahkan. Terlalu murahankah? Terlalu bodohkan? Bahkan sampai saat ini aku tak menemukan alasan mengapa selama ini aku berusaha mati-matian mempertahankannya. Menahan perihnya luka yang dia buat, bertahan dan mengalah agar semua kembali baik-baik saja. Tapi, seolah semua itu tak ada arti dimatanya.

Bayangku mengulang ketika pertama kali aku melihatnya, entah mengapa wajahnya membuat aku tersipu, tampan tidak, agamis tidak. Tapi bagiku dirinya lebih dari cukup. Seperti itukah caranya merayu seorang wanita. Tarik ulur, yang awalnya membuat aku bingung dan penasaran padanya. Aku mencoba membangun tembokku tinggi-tinggi waktu itu karena aku tak mau mengulang luka yang sama untuk kedua kalinya. Namun, pada akhirnya tembok itu runtuh juga dengan segala perhatian dan cumbuannya.

Aku mulai benar-benar mencintai dan membutuhkannya. Aku melupakan bagaimana masa lalunya; aku melupakan segala keburukan dan kekurangannya. Dia mulai bagai narkoba dalam kehidupan yang kubutuhkan di setiap detiknya, aku gusar ketika tak mendapat kabarnya; aku menangis terisak ketika dia marah bahkan aku meminta maaf atas kesalahan yang tak kuperbuat hanya untuk membuatnya tetap ada disisiku; aku diam ketika dia bersama teman-teman wanitanya; aku tersenyum ketika tahu dia membohongiku; aku mencoba bersabar ketika dia masih terus-terusan "minum" didepanku; aku mengkhawatirkanya ketika dia sakit, sedih dan marah; aku bahkan menyakiti, menyalahkan diriku sendiri ketika aku menyesal membuat dia marah padaku; aku menyangkal semua berita, cerita buruk tentangnya; aku selalu ingin memasakkan sesuatu ketika dia lapar, membuatkannya kopi ketika dia mengantuk dan pusing karena terlalu banyak "minum"; aku ingin bisa memijat badannya ketika dia lelah; aku tersenyum, memeluk dan menciumnya seburuk apapun perasaan yang kumiliki; aku menahan amarah, harga diri ketika memohon padanya untuk tetap bersama dan mengatakan aku mencintainya meski yang kudapat hanya balasan tawa; aku selalu percaya dia akan berubah menjadi orang yang lebih baik lagi.

Aku rela melakukan apapun untuknya, tapi semua itu sepertinya tak pernah ternilai dimatanya. Mungkin aku dimatanya hanya seorang gadis yang bawel dan merepotkan. Aku rela melakukan apapun untuknya tapi tidak untuk satu hal yang ingin kujaga sampai aku menikah nanti. Aku akan tetap mempertahankannya sampai waktunya tiba, selain karena takut adzab Tuhan ini kujaga untuk diriku sendiri yang masih ingin terlihat memiliki nilai, harga diri dan bukan perempuan murahan. Tapi dia tak mau mengerti keputusanku ini, apakah aku terlalu sok suci, apakah aku mengambil keputusan yang salah? Aku sudah mencoba menyakinkannya tapi yang kudapat hanya hinaan. Mungkin dia benar aku hanya omong doang, aku orang munafik, apapun yang dia katakan tentangku aku bisa menerimannya karena memang diawal aku salah memberinya harapan hanya untuk menahannya untuk tidak pergi. Dan aku memohon kepada Allah SWT kalaupun tidak sekarang suatu saat di kehidupannya nanti dia akan menyesalinya, mengerti dan merasakan rasa sakit yang kupendam selama bersamanya dua kali lebih hebat. Seharusnya dia berusaha menjadi seseorang yang bisa dibanggakan ibunya agar ibunya tenang dialam  sana. Tapi, ya sudahlah berbicara saja memang gampang, aku sendiri juga bukan anak yang bisa dibanggakan, paling tidak aku menyadari dan tidak memperburuk keadaan *congkak*

Aku selalu berdoa pada Tuhan agar menjauhkan aku dari orang-orang yang ingin menyakitiku, jika dia jodohku aku memohon agar Tuhan memberikan hidayahNya agar dia berubah menjadi orang yang lebih baik dan sosok imam yang tepat untukku di masa depanku. Tapi, jika bukan jodohku aku memohon hilangkan rasa ini sebelum dia pergi meninggalkan aku, karena aku tak yakin bisa menahannya ketika dia benar-benar pergi dan terima kasih aku bersyukur pada Allah SWT rasanya tidak semenyesakkan yang kukira, biarlah seperti ini, jangan biarkan aku terluka lebih dalam. Aku juga berhak mendapatkan kebahagiaan dariMu kan? Aku memang menangisinya, mengingat setiap kenangan bersamanya tapi lebih dari itu jangan biarkan aku terlalu larut dalam kesedihan ini Ya Allah..

Sebenarnya dia orang yang baik aku tau itu, hanya saja dia perlu belajar mengontrol emosi dan hawa nafsunya. Aku menyanyanginya lebih dari diriku sendiri, tapi jika dia ingin pergi aku akan berusaha tersenyum dan mengubah rasa ini sebagai teman. Aku menyanyangi bahkan mencintainya, tapi apa yang bisa kulakukan jika aku bukan orang yang diharapkannya. Aku ingin berteriak, mengancam dan memaksanya tetap bersamaku, tapi aku tau itu hanya sia-sia yang kudapat hanya ilusi dan kebohongan yang lebih lagi. Aku masih ingin memandanginya, memeluk, mencium, mengusap pipi dan rambutnya tapi Tuhan hanya memberiku waktu sesingkat ini untuk melewatinya. Apa yang bisa kulakukan saat ini? Selain mencoba mengikhlaskan dia pergi bersama yang lain dan aku harus fokus mengejar karir dan mimpi yang sempat terlupakan sejenak karena kehadirannya. Kuatkan aku Ya Allah ketika nantinya aku tau dia sudah jalan bersama yang lain, jika Engkau tidak rela memberikan kekuatanmu, pinjamkan aku kekuatan mati rasa, tegar melihatnya bersama yang lain, pinjami aku kekuatan mati rasa tentangnya sampai aku menemukan sosok penggantinya dan hati ini tergerak kembali karena seseorang....

Terima kasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar