Kini ceritanya sudah berada pada halaman akhir, The end.
Over. Selesei semua tentangnya… ya benar dia memang meninggalkan luka yang sangat
dalam, tak ada yang perlu disalahkan hanyalah aku mungkin karena mengijinkannya
singgah dalam kehidupanku dan menjadikan rasa ini memupuk terlalu dalam hingga
menghancurkan tembok yang dulu kubangun kokoh. Bahkan aku kalah olehnya yang
membawa cinta dan sayang tak seberapa besarnya.
Kebersamaan itu bahkan mungkin tak berarti dimatanya,
Dia, sudah dua minggu 15 hari tepatnya dia meninggalkanku,
meninggalkan ingata yang sedang ku coba kurubah menjadi sebuah kenangan. Atas
bantuan Tuhan aku bisa sampai sejauh ini bertahan dan mencoba kembali fokus
menata masa depan yang sempat tertunda. “Aku tidak boleh menyia-nyiakan kekuatan
yang telah dipinjamkan Tuhan padaku” itu kata-kata yang selalu kutanamkan dalam
otakku, satu lagi “Dia tidak sebaik yang kamu pikirkan memeta”. Semua itu mulai
kucoba kutanam di otakku. Ya otakku karena hatiku kini sudah mati, hatiku
terlalu kejam, terlalu lemah dan bodoh dalam menilai. Saat ini hatiku harus
dimatikan, aku tidak boleh bekerja dengan hatisemua harus bekerja, berjalan
dengan otak dan fisikku. Jangan dengarkan kata hati meskipun hati menjerit
kesakitan, merintih, memohon perhatian untuk dikasihani. Jangan menoleh
padanya, karena sekali aku menoleh padanya pertahanan, air mata akan luluh
olehnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar