Jumat, 15 Februari 2013

Difference


Dulu, beberapa tahun silam aku pernah membuat beberapa bait kata yang menjadi pedoman. Yang membuat mereka berkomentar, aku terlalu sok bijak, aku berfikir seperti orang tua, dll. Tapi, dengan kata-kata itulah aku bisa mengenal diriku (saat itu).
                Kawan
                Dihari yang akan datang
                Kita kan berbaur dengan masyarakat
               
            Kau bilang benci padaku
Ku pahami itu
Karena memang inilah diriku
Hamba Tuhan yang penuh kekurangan

Kawan,,,
Coba kau fikir dan renungkan
Jika setiap makhluk tak punya kekurangan
Penuh dengan kesempurnaan
Apa jadinya kehidupan

Kawan,,,
Inilah aku
Kau tau sulit tuk rubah sikap
Begitu pula aku, inilah aku
Takdirku memang diciptakan Tuhan seperti ini
Jika bisa kurubah kan kulakukan
Hanya tuk tampil tampil semprna dimata orang

Kawan,,,
Apa gunanya itu? Bagiku tak ada gunanya
Hanya demi dipandang baik dimata orang
Apapun rela dikorbankan
Apa gunanya itu?
Jika itu hanya merugikan diri kita
Jika itu hanya membohngi diri kita
Jika itu menutup jati diri
Lebih baik jujur pada diri sendiri
Ikuti kemauan hati

Kawan,,,
Mencari pasangan hidup sama dengan mencari sahabat sejati
Jika orang itu sayang pada kita
Pasti dia akan terima kita apa adanya

Lihat kebaikannya
Intip kekurangannya
Pahami dirinya

Itu adalah bait yang kutulis di bukuku beberapa tahun silam, but sekarang apa yang kulakukan. Pedoman yang dulu selalu membuatku bertahan menjadi diri sendiri,  justru berbalik menyerang tepat di ulu hati. Aku berubah menjadi orang lain. Yang sampai saat ini aku bahkan tak mengenalnya.
Betapa bodohnya aku, aku melakukan kesalahan fatal beberapa minggu lalu. Hanya demi dipandang baik oleh orang lain.
Andai aku masih memegang pedoman itu sampai kini, mungkin kebodohan itu tak kan pernah terjadi.
Maafkan aku…. L

Tidak ada komentar:

Posting Komentar