Percaya tidak percaya kebodohan ada dalam setiap
diri manusia. Entah disadari ataupun tidak. Aku merasakannya.. Bodohkah orang yang mengakui kebodohanya. Disebut apakah
orang yang mengakui kebodohannya? Satu kebodohan yang kurasakan saat ini,
tentang “CINTA”. Yang sebenarnya dalam hati ini masih terdengar lucu ketika aku
membicakannya. Aku tak pernah mengerti sebenarnya apa arti cinta itu , bahkan
jika logikaku bekerja itu suatu hal yang tak masuk akal, mempertaruhkan diri,
berkorban, perhatian, berbagi waktu dan hidup untuk orang lain. Kenapa harus, jika kita bisa melakukan apa-apa sendiri dan hanya membutuhkan seseorang
sesekali untuk berbaur. Ingin kasih sayang bisa kita dapatkan dari orang-orang
terdekat yang berkata menyanyangimu, ingin perhatian, menghibur diri bersama
teman, ingin kemesraan bahkan jika kau perlu itu bisa dicari pada seseorang. Semua
ada jika kita mau, lalu apa yang membuat kata cinta itu penting?? Aku tak
pernah mengerti.
Kenapa rasa itu harus hadir dan aku harus merasakannya.
Suatu hal aneh yang kurasakan dalam diri, perasaan sesak, gembira, senang,
sedih, tak menentu hanya karena sosok seorang lelaki. Suatu hal yang seharusnya
tak perlu kulakukan tapi tiba-tiba hadir hanya dalam waktu kurang dari seminggu. Apakah
aku termakan omonganku sendiri karena tak mempercayai kata lucu bernama “cinta”?.
Suatu hal yang memalukan ketika harus mengakuinya, jujur.
Pernahkah kalian merasakannya, selalu
memikirkan orang yang sama yang baru kau kenal dalam kurun waktu dua hari. Aku bahkan
tak percaya aku telah melakukannya. Aku bahkan bertindak seolah bukan aku. Aku
bukan orang yang stand by bawa hand phone kemana-mana tapi aku
melakukannya. Aku bukan seorang penggemar SMS, BBM telfon selalu menjadi pilihan
utama tapi aku melakukannya. Aku bukan orang yang rela menguras air mata karena
seorang lelaki tapi aku melakukannya. Aku bukan seorang yang rela bangun pagi
untuk suatu hal gak penting hanya untuk bisa mengucapkan selamat pagi untuknya
tapi aku melakukannya. Aku bukan orang yang selalu rela mengalah setiap saat
ketika merasa terdesak tapi aku melakukannya. Aku bukan orang selalu menuruti
apa kata orang ketika itu bertolak belakang dengan pemikiranku tapi aku
melakukannya. Bukankah ini gila?? Aku bahkan melupakan segalanya hanya untuk
memikirkannya, mengkhawatirkannya. Apakah ini benar??
Seperti itukah yang disebut dengan cinta. Lalu
bagaimana jika hanya aku yang merasakannya? Hanya aku yang merasakan
kejutan-kejutan itu. Apakah ini sia-sia? Aku bahkan sekarang merasa tak adil,
karena aku harus merasakan ini secara sepihak. Bukankah seharusnya Tuhan
menghadirkan rasa ini pada orang yang memiliki rasa yang sama terhadapku? Kenapa
aku harus merasa sendirian disini?
Yah karena inilah aku berkata Love is Stupid.
Ketika aku awalnya menerima sosok yang baru kukenal dua hari itu, menjalaninya
dan kini bahkan aku yang gila karenanya, bukan dia yang gila karenaku. Aku terkadang
berfikir andai aku tak pernah menerimanya. Mungkin,, ah sudahlah. Bahkan, andai
saja kau tau rasanya lebih sakit, sesak dari pada cinta sepihak yang ditolak. Kenapa
begitu karena jelas-jelas kini aku menjalin hubungan dengannya tapi sikapnya,
caranya memperlakukanku tak semanis di awal. Awalnya aku percaya dia akan
berubah but now is impossible, He still
be the same people. Aku diam, aku tersenyum, aku mengalah untuknya. Ketika bersama
teman perempuannya, ketika minum, ketika menghilang tanpa kabar, ketika marah
hanya karena hal sepele, ketika aku yang harus datang padanya, ketika lebih
asyik menghabiskan malam bersama orang lain bahkan menolak ketika kuajak
keluar. Ingin rasanya aku berteriak, cintakah kau padaku?, sayangkah kau padaku?,
tahukah kau bagaimana aku mengkhawatirkanmu?, tahukah kau aku selalu ingin ada
dipikiranmu?, tahukah kau sakitnya ketika kau lebih memilih mereka?, tahukah sedihnya
ketika kau bersama yang lain?, tahukah sesaknya ketika kau menghilang tanpa kabar?, tahukah
rasanya menahan amarah dan tetap tersenyum ketika kau menyalahkanku?, kapan kau
mengerti? Aku harus memendamnya hanya karena alasan ketika aku meluapkannya aku
takut kau pergi meninggalkanku. Aku bahkan rela mendengar kata-kata jujurmu
sedang apa dan bersama siapa dan menelan pahitnya sendiri ketika itu membawa
luka. Aku bahkan mengacuhkan semua nasihat hanya untuk bersamamu. Walau aku
tahu apa yang mereka katakan itu benar dan masuk akal, aku tetap berdalih
untukmu. Mengeluk-elukanmu ketika ada kabar buruk tentangmu, aku berusaha
sebaik mungkin untuk tetap mempertahankan rasa ini untukmu, walau mungkin engkau
tak mengharapkannya. Aku orang bodoh yang mencoba mempertahankan rasa ini untuk
bersamamu. Aku orang bodoh yang bukannya mencoba menjauhimu tapi malah
mendekat. bukan karena tak ikhlas atau apapun mengtakan ini, tapi karena aku mulai lelah menunggu kau mengerti.
Sekarang kau mulai menjauh aku tahu itu, tapi
apa yang harus aku lakukan? Kembali mempertahankanmu. Aku tak ingin lagi
memaksakan ini, yahh kini aku hanya mencoba bertahan dengan tenaga yang
tersisa. Ketika kau ingin pergi, aku akan melepaskannya. Tuhan akan membantuku
mengatasi rasa perih akan kepergianmu nantinya, akan menggantikan yang lebih
dari apapun darimu dan kau akan merasakan sesal akan tindakanmu yang salah
suatu hari nanti. Perempuan bukan barang mainan jika kau pikir hati ini mudah
dipermainkan. Semua mencoba mengasihimu, tapi apa gunnya ketika orang yang dikasihi
tak menginginkannya. Selalu mencoba berpikir positif tentangmu tapi harus sampai
kapan? Kau sudah seperti kopi bagiku, walaupun membuat lambungku perih tapi
tetap kuminum karena aku membutuhkannya, hanya yang membedakan kopi membuat aku
waras dan kau sebaliknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar