Sepertinya kamu datang hanya membawa
luka dan air mata. Dari awal saja pikiran ini sudah menyeruak dalam bentuk
prasangka. Keraguan itu ada karena hadirmu yang tiba-tiba dan rasa sakit yang
masih membekas dari masa lampau. Aku tak berani menjanjikan kata manis padamu,
apalagi seperti yang kulihat kau langsung berkata mundur ketika aku berkata
tidak. Tindakan tanpa usahamu semakin menguatkan sisi keraguan. Kepercayaan
yang kupupuk kini mulai goyah. Kepercayaan itu jujur tak kudapat sampai
sekarang. Apalagi dengan gayamu yang menghindar di setiap tanya tentang rasa
yang ada. Entah ini kebodohanku atau ketidakmampuanku menahan rasa penasaran.
Aku memutuskan mencoba berjalan beriringan denganmu, walaupun sampai saat ini
aku merasa bodoh karena mencoba berusaha untuk beriringan sedang kau yang
memulai hanya diam disanamenantiku akan lari padamu. Aku mencoba berhenti dan
berbalik arah, tapi entah setan mana yang merasukiku hingga aku tetap berlari
padamu. Apa aku terlihat murahan dimatamu? Kita lihat saja peristiwa apa
yangakan terjadi. Walaupun terselip dalam jeritan hati akan berkhir tangis aku
tetap mencoba. Memahami, mengerti keadaan yang ada. Hanya memohon pada Tuhanku
supaya aku bisa menjaga hati ini tetap pada tempatnya dan tidak terlalu jatuh
padanya agar ketika rasa sakit itu benar-benar datang aku masih bias terseyum
dan tertawa di depannya. Biar kusimpan tangis itu dalam keheningan malamku
bersama teman yang mungkin masih mengasihiku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar